IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK RESPON PERTUMBUHAN GENOTIPE Moringa Olifera (L) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN
Abstract
Tanaman Moringa Oleifera (L) dibudidayakan pada lahan kering yang
pengairannya hanya mengandalkan dari curah hujan. Untuk mengantisipasi
dampak buruk dari adanya cekaman kekeringan akibat kemarau panjang
diperlukan strategi teknik budidaya yang tepat dan penggunaan varietas unggul
Moringa Oleifera (L) yang toleran terhadap kekeringan. Sampai saat ini informasi
tentang ketahanan tanaman Moringa Oleifera (L) masih sangat terbatas. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan beberapa
genotype Moringa Oleifera(L) terhadap cekaman kekeringan. Manfaatnnya
diperoleh informasi kemungkinan adanya genotipe Moringa Oleifera (L) yang
toleran terhadap kekeringan. Penelitian ini diharapkan nantinya dapat diperoleh
genotipe Moringa Oleifera (L) di Kabupaten Sumenep yang toleran terhadap
kekeringan. Hasil pengamatan pada umur 120 HST terlihat bahwa komponen
pertumbuhan dan produksi biomas genotipe Moringa Oleifera(L) A4.
Berdasarkan data hasil pengamatan pertumbuhan, produksi dan pengujian
ketahanan cekaman kekeringan mengindikasikan bahwa genotipe Moringa
Oleifera (L) A4 paling toleran. Genotipe A4 diidentifikasi sebagai genotipe yang
lebih toleran terhadap cekaman kekeringan dengan kandungan prolin 2,16. Oleh
karena itu untuk pengembangan tanaman Moringa Oleifera(L) di daerah yang
sering terjadi cekaman kekeringan, menggunakan genotipe MoringaOleifera(L)
A4 dapat dianjurkan.
References
ofMoringa Oleifera L.root in
epithelial ovarian cancer,
MedGenMed, 9(1): 26.
Farooq, M./ A. Wahid, N.
Kobayashi, D. Fujita, and
S.M.A. Basra. 2009. Plant
drougth stress:effect,
mechanisms, and management.
Agron. Sustain. Dev.29 (2009)
: 185 – 212.
Gasperz, V. 1994. Metode
Perancangan Percobaan. CV.
Armico. Bandung.
Gembong, Tjitroesoepomo.
1989. Morfologi Tumbuhan.
Gajah Mada University
Press.Yogyakarta:
Jones, M.M. and N.C. Turner. 1980.
Osmotic adjustment in
expanding and fully expanded
leaves of sunflower in response
to drought deficit. Proc. Indian.
Nat. Sci. Acad. 3 (57) : 288-
304.
Kramer, J.P. 1980. Draught Stess
and The Origin of Adaptation.
In Turner, Kramer (eds)
Adaptation of Plants to Water
and High Temperature Stress.
John Willey and Sons.
Canada.
Mathius, N. T., Liwang, T.,
Danuwikarsa, M. I.,
Suryatmana, G., Djajasukanta,
H., Saodah, D. dan Astika, I.
G. P. W. 2004. Respons
Biokimia Beberapa Progeni
Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) Terhadap
Cekaman Kekeringan Pada
Kondisi Lapang. Balai
Penelitian Bioteknologi
Perkebunan Indonesia,
Bogor.http://www.ipard.com/in
fopstk/ publikasi/ejurnal/biotek/mp72-02-01.pdf.
Pitono, J., H. Nurhayati, dan
Setiawan. 2008. Seleksi
ketahanan terhadap stres
kekeringan pada tiga nomor
somaklon nilam di lapangan.
Laporan Teknis Penelitian TA.
2008. Balittro. (tidak
dipublikasikan). hal. 201-212.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995.
Fisiologi Tumbuhan. Jilid I.
Bandung : Penerbit ITB,
Bandung. 241 hal.
Sammons DJ, Peters DB and
Hymowitz T. 1980. Screening
Soybeans for Tolerance to
Moisture Stress : a Field Crops
Res 3:321-335
Suardi, D. 2000. Kajian Metode
Skrining pada Toleran
Kekeringan. Buletin Agro Bio.
3 (2) : 67-73.
Yoshida, Y., T. Kiyosue, K. Y.
Shinozaki, and K. Shinozaki.
1997. Regulation of levels of
proline as an osmolyte in
plants under drought stress.
Plant Cell Physiology. 38 (10) :
1095-1102.






.png)

3.png)
