PENGEMBANGAN WISATA BUKIT TAWAP LENG-LENG DALAM PERSPEKTIF COLLABORATIVE GOVERNANCE

(Studi pada Badan Usaha Milik Desa Harapan Bahari di Desa Pagarbatu, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep)

  • Rillia Aisyah Haris Universitas Wiraraja
  • Findriasih .
  • Imam Hidayat Universitas Wiraraja

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengembangan Wisata Bukit Tawap Leng-Leng dalam Perspektif Collaborative Governance. Dasar dilakukannya pengembangan secara Collaborative Governance oleh BUMDes karena pengembangan wisata mengalami permasalahan yang berupa keterbatasan sumber daya, kemampuan dan minimnya modal. Ketidakmampuan BUMDes dalam mengembangkan wisata sehingga dilakukan collaborative governance oleh Pihak BUMDes dengan investor, pokdarwis dan Pemerintah Desa Pagarbatu. Pengembangan wisata ini dilatarbelakangi dari adanya motivasi dari Kepala Desa bahwa kita tidak akan keluar dari pandemi covid-19 ini jika kita tidak bergerak untuk melakukan sesuatu dalam meningkatkan ekonomi masyarakat pada saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sedangkan fokus penelitian pada proses collaborative governance menurut Ansell dan Gash (2007) yang terdiri lima indikator yaitu dialog tatap muka (Face to Face), membangun kepercayaan (Trust Building), komitmen terhadap proses (Commitment to Process), pemahaman bersama (Share Understanding) dan hasil antara (Intermediate Outcomes). Namun sebelum menjelaskan lima indikator tersebut peneliti terlebih dahulu menjelaskan stakeholder  yang terlibat beserta peran-perannya dalam proses kolaborasi pada penelitian ini. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan pengembangan wisata tidak lepas dari adanya pihak-pihak yang terlibat beserta peran-perannya. Adanya face to face dialogue tau pertemuan yang dilakukan secara rutin dan berdasrkan kebutuhan. Trust building dilakukan dengan membangun citra yang baik, Commitmen to the process dilakukan dengan menggugah komitmen, memberikan motivasi, dan pemahaman bersama. Share understanding dilakukan dengan pemahaman tujuan, peran stakeholders, dan pembagian hasil keuntungan, dan Intermediate outcomes yaitu hasil pembangunan wisata telah mencapai 50-60%  tahap  penyelesian.  Hambatan  yang  dihadapi  adalah  dalam  pengumpulan dana untuk proses pembangunan wisata yang tidak mudah.   Kata Kunci: Collaborative Governance, BUMDes dan Pengembangan Wisata.  
Published
2022-12-26
Abstract viewed = 0 times
pdf downloaded = 0 times