ETNOBOTANI DAN PENGGGUNAAN TUMBUHAN LIAR SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT SUKU MADURA

(STUDI DI KECAMATAN LENTENG, GULUK-GULUK, DAN BLUTO)

  • Amilia Destryana Dosen Fakultas Pertanian Universitas Wiraraja
  • Ismawati Ismawati Dosen Fakultas Pertanian Universitas Wiraraja
Keywords: etnobotani, tumbuhan liar, tumbuhan obat, suku Madura

Abstract

Kajian etnobotani menjelaskan tentang budaya masyarakat tradisional dalam memanfaatkan sumber daya alam berupa tumbuhan. Salah satu etnobotani yang banyak dikaji adalah tumbuhan obat, yaitu tumbuhan yang merupakan hasil hutan yang memiliki manfaat secara ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah mendokumentasikan tumbuhan liar yang digunakan sebagai obat tradisional dan cara memanfaatkannya oleh masyarakat Suku Madura di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini dilakukan di 3 kecamatan, yaitu Lenteng, Guluk-Guluk, dan Bluto di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode survei eksploratif, dan teknik pengumpulan data dengan wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Setiap tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional difoto dan diidentifikasi dengan aplikasi PlantNet.  Tercatat 25 jenis tumbuhan liar yang digunakan sebagai obat tradisional di Kecamatan Lenteng, Kecamatan Guluk-Guluk, dan Kecamatan Bluto, diantaranya sebagai obat luka, sakit mata, gatal-gatal, demam, sakit kepala, nyeri haid, diare, kencing manis, kencing batu, usus bantu, bisul, sariawan dan anemia. Bagian tumbuhan yang sering digunakan sebagai obat tradisional yaitu bagian daun (68 %), bunga (8 %), batang (4 %), buah (12 %) dan semua bagian tumbuhan (8 %). Cara penggunaan tanaman liar yang dilakukan masih sederhana, yaitu digunakan langsung pada bagian tubuh yang sakit, ditumbuk kasar atau ditumbuk halus bersama bahan lain, dan direbus kemudian diambil sarinya. 

References

Bahriyah, I., Hayati, A., & Zayadi, H. (2015). Studi Etnobotani Tanaman Kelor (Moringa oleifera ) di Desa Somber Kecamatan Tambelangan Kabupaten Sampang Madura. Biosaintropis, 2805(1), 61–67. Retrieved from http://biosaintropis.unisma.ac.id/index.php/biosaintropis/article/view/50/25
Djakaria Simin, N., Zees Fahriani, R., & Paramata Roswita, N. (2010). Kajian Etnobotani Tanaman obat oleh masyarakat kabupaten bonebolango provinsi gorontalo, (6), 21–22.
Ernawati, E., Zuhud, E. A. M., & Hikmat, A. (2009). Etnobotani Masyarakat Suku Melayu Daratan (Studi Kasus di Desa Aur Kuning Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar Provinsi Riau). Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Jafar, J., & Djollong, A. F. (2018). TUMBUHAN LIAR BERKHASIAT OBAT DI DATARAN TINGGI KABUPATEN ENREKANG. JURNAL GALUNG TROPIKA, 7(3), 198–203.
Meliki, Linda, R., & Lavodi, I. (2013). Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Suku Dayak Iban Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah. Protobiont 2013, 2(3), 129–135. https://doi.org/10.1108/09564239710185398
Setiawan, H., & Qiptiyah, M. (2014). Kajian Etnobotani Masyarakat Adat Suku Moronene Di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 3(2), 107. https://doi.org/10.18330/jwallacea.2014.vol3iss2pp107-117
Setyowati, F. M. (2010). Etnofarmakologi dan pemakaian tanaman obat suku dayak tunjung di Kalimantan Timur. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 20(3 Sept).
Published
2019-10-22