PENGARUH DEBIT AIR TEHADAP POLA TATA TANAM PADA BAKU SAWAH DI DAERAH IRIGASI KEBONAGUNG KABUPATEN SUMENEP

  • Cholilul Chahayati Dosen Tetap Fakultas Teknik Universitas Wiraraja Sumenep
  • Sutrisno Sutrisno Dosen Tetap Fakultas Teknik Universitas Wiraraja Sumenep

Abstract

Pemberian air irigasi ini harus dilakukan dengan tepat agar tanaman yang ada mendapatkan air yang cukup. Ketersediaan debit air untuk irigasi sangat dipengaruhi oleh musim. Ketidaksesuaian debit air yang dibutuhkan dengan debit yang tersedia diakibatkan oleh terjadinya penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan tata tanam  di lapangan yang tidak sesuai dengan rencana luasa tanam yang diusulkan. Sehingga secara tidak langsung mengakibatkan tidak maksimalnya keuntungan hasil panen dari lahan pertanian yang ada. beberapa masalah, yaitu: berapa debit andalan yang ada pada Dam Irigasi Kebonagung?,Berapa kebutuhan debit air irigasi yang diperlukan untuk setiap jenis tanaman yang dibudidayakan berdasarkan pola tanam?,Berapa luas tanam lahan teknis optimum disaat pergantian musim yang didapat dari hasil optimasi?.untuk menyelesaikan permasalahan harus menganalisa tentang Evaporasi, Transpirasi, Evapotranspirasi, Evapotranspirasi, Analisis Curah Hujan, Uji Konsistensi Data Curah Hujan, Kebutuhan Air Untuk Penyiapan Lahan, Perkolasi, Debit Andalan, Koefisien Tanaman, Berdasarkan hasil analisa data dengan metode Weibull diperoleh debit andalan Dam Parsanga dengan nilai debit tertinggi sebesar 1,380 m3/dt dan nilai debit terendah sebesar 0,050 m3/dt . Besar kebutuhan air irigasi yang diperlukan untuk masing-masing jenis tanaman yang dibudidayakan di DI Kebonagung berdasarkan pola tanam terdapat pada Sekunder Kanan dan Sekunder Kiri.Pada Sekunder Kanan terpilih Pola Tata Tanam Alternatif III luas tanam optimum untuk musim tanam I seluas 310 Ha, pada musim tanam II seluas 310 Ha dan musim tanam III seluas 236,157 Ha. Pada musim tanam III luas lahan yang ditanami tidak bisa maksimum karena terjadi kekurangan air. Pada Sekunder Kiri terpilih Pola Tata Tanam Alternatif III luas tanam optimum untuk musim tanam I seluas 338 Ha dan musim tanam III seluas 257,488 Ha. Pada musim tanam III luas lahan yang ditanami tidak bisa maksimum karena terjadi kekurangan air. Kata kunci        :  debit air, daerah irigasi.

Author Biographies

Cholilul Chahayati, Dosen Tetap Fakultas Teknik Universitas Wiraraja Sumenep
Program Studi Teknik Sipil Fakultas TeknikUniversitas Wiraraja Sumenep
Sutrisno Sutrisno, Dosen Tetap Fakultas Teknik Universitas Wiraraja Sumenep
Program Studi Teknik Sipil Fakultas TeknikUniversitas Wiraraja Sumenep

References

Dimyati. 1989. Operation Research. Bandung: Sinar Baru.
Soemarto, C. D. 1986. Hidrologi Teknik Edisi 1. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.
Soewarno. 1995. Hidrologi – Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid 2. Bandung: Nova.
Sosrodarsono, S & Takeda, K. 1976. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Standar Perencanaan Irigasi (Kriteria Perencanaan 01-07). Bandung: CV. Galang Persada.
Standar Perencanaan Irigasi (Bagian Penunjang, KP 01 – 07). Direktorat Jenderal Pengairan: Departemen Pekerjaan Umum.
Subagyo, S., dkk. 1981. Dasar-Dasar Operation Research. Yogyakarta: BPFE.
Subarkah, Imam. 1980. Hidrologi Untuk Perencanaan Bangunan Air. Bandung: Idea Dharma.
Suhardjono. 1994. Kebutuhan Air Tanaman. Malang: Institut Teknologi Nasional.
Wirosoedarmo, Ruslan. 1985. Dasar-dasar Irigasi Pertanian. Malang: Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.http://www.solver.com/pricemenu.htm
Published
2014-10-01
Abstract viewed = 428 times
PDF downloaded = 475 times